Detail Cantuman Kembali

XML

pengaruh konsentrasi asam klorida (HCl) pada proses deasetilasi khitin dalam pembuatan khitosan dengan bahan baku kulit udang windu (Penaeus monodon)


Deasetilasi merupakan proses isolasi khitin menjadi khitosan. Tujuan deasetilasi adalah untuk menghilangkan gugus asetil (COCH3) dalam khitin, sehingga menghasilkan khitosan. Pada proses deasetilasi dalam penelitian ini menggunakan NaOH 11,25 N sebagai kontrol, sedangkan perlakuan konsentrasi HCl yang berbeda (5N; 5,5 N; 6 N) sebagai perlakuan. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi HCl pada proses deasetilasi dalam isolasi khitosan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu khitosan yaitu rendemen, kadar air, kadar abu, derajat deasetilasi dan viskositas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi dan eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data analisis menggunakan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji Dunnet untuk mengetahui hubungan antara perlakuan dengan kontrol. Nilai derajat deasetilasidan viskositas rendah, sehingga belum memenuhi standart yang ditetapkan Departemen Kelautan dan Perikanan (2003), hal ini disebabkan masih tingginya gugus asetil. Nilai derajat deasitilasi kontrol sebesar 42,9257 % sedangkan nilai derajat desitilasi perlakuan tertinggi sebesar 48,5176 % pada konsentrasi HCl 5 N. Rendemen khitosan tertinggi sebesar 75,2% diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 5,5 N dan rendemen terendah sebesar 70,87 % diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 6 N. Perlakuan konsentrasi HCl tidak berpengaruh terhadap rendemen khitosan, hal ini disebabkan karena variasi HCl yang digunakan kecil yaitu 0,5 N. Perlakuan konsentrasi HCl berbeda sangat nyata dengan perlakuan kontrol, hal ini disebabkan karena khitosan bersifat larut dalam suasana asam, sehingga menghasilkan rendemen khitosan yang rendah. Proses deasetilasi menggunakan NaOH lebih baik, karena menghasilkan rendemen lebih tinggi dibandingkan menggunakan HCl. Kadar air khitosan tertinggi sebesar 5,77% diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 6 N dan kadar air terendah sebesar 3,04% diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 5 N. Perlakuan konsenstrasi HCl 5 N berbeda nyata terhadap konsentrasi HCl 6 N, hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi HCl yang digunakan pada proses deasetilasi, khitosan yang dihasilkan akan semakin kuat mengikat air. Perlakuan kontrol berbeda nyata terhadap perlakuan konsentrasi HCl 5 N dan 6 N, hal ini disebabkan semakin tinggi mineral yang hilang akan semakin kuat khitosan mengikat air. Perlakuan konsentrasi HCl 5 n lebih baik, karena dengan konsentrasi yang rendah dapat menghasilkan kadar air rendah. Kadar abu khitosan tertinggi sebesar 0,32% diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 5 N dan kadar abu terendah sebesar 0,19% diperoleh dari hasil deasetilasi menggunakan HCl 5,5 N. Perlakuan konsentrasi HCl 5,5 N berbeda nyata terhadap perlakuan kontrol, hal ini disebabkan mineral laut dalam HCl. Penggunaan HCl lebih baik pada proses deasetilasi, karena menghasilkan kadar abu lebih rendah dibandingkandengan menggunakan NaOH, hal ini disebabkan mineral laut dalam HCl. Nilai derajat deasitilasi dan viskositas rendah, sehingga belum memenuhi standart yang ditetapkan Departemen Kelautan dan Perikanan (2003), hal ini disebabkan masih tingginya gugus asetil. Nilai derajat deasitilasi kontrol sebesar 42,9257%, sedangkan nilai derajat deasitilasi tertinggi sebesar 48,5176% diperoleh dari perlakuan konsentrasi HCl 5 N. Khitosan yang dihasilkan dari proses deasetilasi dengan HCl maupun NaOH mempunyai nilai viskositas yang sama yaitu 37,5 cps.
Purwoko - Personal Name
Giman Gilmawan - Personal Name
Suseno - Personal Name
625.06.01 Pur p
NONE
Text
Indonesia
Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, Universitas Hang Tuah
2006
Surabaya
xii, 60 p. : ill. ; 29 cm.
LOADING LIST...
LOADING LIST...